DR Rahman : Propaganda ‘Sukses’ Menteri Bid. Ekonomi Hanya Manuver Agar Lolos Dari ‘Resufflle’

IMG-20170817-WA0004

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klikaktifis.com – Sehubungan dengan eforia kebanggaan suksesnya pertumbuhan ekonomi nasional dengan berbagai langkah paket kebijakan ekonomi dan keuangan tetapi pada kenyataannya sektor riil mikro ekonomi masih terasa lesuh hingga kini.

Oleh karena itu Fuad Bawazier Mantan Menteri Keuangan dan Dirjen Pajak memberikan masukan pada kami untuk disampaikan pada Bapak Presiden sebagai bahan pertimbangan untuk mengatasi kelesuan ekonomi mikro saat ini.

“Propaganda suksesnya stabilitas pertumbuhan ekonomi ironis dengan kenyataan saat ini masih terjadinya kelesuan riil ekonomi mikro belum terdongkrak naik”, ujar DR. Rahman Sabon Nama, Ketua Umum APT2PHI pada redaksi, Kamis (17/07)

Menurut Rahman, saat ini dirinya sedang dalam kunjungan ke pulau Adonara Kabupaten Flores Timur, NTT untuk menggali potensi kelautan NTT untuk industri garam guna kesejahteran petani /nelayan dan mengatasi kelangkaan dan mahalnya harga garam.

Dari lautan kepulauan Solor Watan Lema di Flores Timur kami kata Rahman, mengirimkan saran dan masukan untuk Presiden Jokowi agar bisa menyadarkan para pejabat penting pemerintah di bidang ekonomi dan keuangan yang sibuk membanggakan ‘sukses’ dengan kebijakan makro ekonomi yang stabil.

Keadaan ini berbanding terbalik dengan keinginan Presiden Jokowi dengan mendesak para pejabatnya agar mengambil berbagai langkah kongkrit untuk mendongkrak ekonomi Indonesia antara lain melalui berbagai Paket Kebijakan Ekonomi untuk menerobos kelesuan di sektor riil mikronya.

Karena Makro Ekonomi Indonesia sejak 50 tahun terakhir ini sejak awal Orba hingga kini praktis stabil masih begini begini saja juga (kecuali saat terkena krismon) dengan kecenderungan ekonomi mikro kini memburuk sebab dulu pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6-7% dan sekarang hanya 5%.

Dengan cadangan devisa relatif stabil diukur rationya terhadap Import dan inflasi plus minus sama/relatif stabil.

Namun rata rata pertumbuhan kredit perbankan dulu lebih tinggi dari sekarang, IHSG BEI dari dulu selalu yang paling menguntungkan di Asia tetapi utang negara jelas memburuk sebab dulu (Orba) hanya utang kepada IGGI/CGI.

Dengan ratio pembayaran cicilan dan bunganya terhadap APBN ‘yang amat kecil’ dibandingkan dengan utang negara saat ini selain berhutang ke CGI juga berhutang ke pasar bebas yang pemenuhan kewajibannya bisa sampai 25% dari APBN, urai Rahman.

Dia menambahkan, harus disadari bahwa Tax Ratio kita saat ini juga memburuk namun kurs rupiah terhadap Valas juga relatif stabil tetapi semasa Orba lebih stabil lagi dengan kebijakan Devaluasi Jadi makro Ekonomi kini dianggap baik dan masih OK tetapi kenyataan sebenarnya terus memburuk.

Rahman mengingatkan apabila tidak diantisipasi oleh pejabat otoritas dibidang ekonomi dan keuangan lama lama bisa ambruk.

Jadi sebaiknya petinggi ekonomi dan keuangan tidak terlena apalagi membanggakan ‘sukses’ makro ekonomi sebab dari dulu ya begitu begitu saja ,dengan kecenderungan saat ini relatif memburuk, jadi sebetulnya tidak ada yang perlu dibanggakan dengan makro ekonomi Indonesia saat ini.

Dari informasi yang kami terima agar Bapak Presiden tidak terjebak dengan keadaan ini bahwa ini hanyalah manuver para Menteri agar tidak terkena reshuffle kabinet.

Padahal sebetulnya itu hanya urusan politik tetapi yang jelas dan seharusnya diperhatikan dan dijadikan ukuran kesuksesan ekonomi oleh Pemerintah adalah keadaan Mikro Ekonomi karena itulah yang betul-betul dirasakan para pelaku ekonomi baik penjual/produsen maupun pembeli/konsumen.

Untuk itu APT2PHI merekomendasi Saran sebagai berikut.

Pertama sebut Rahman, agar pemerintah waspada dengan Propaganda ‘sukses’ yang terus menerus bisa menyesatkan dan berbahaya apabila pemerintah terlena karena percaya pada kebohongan atau propagandanya sendiri.

Kedua, Keadaan pemerintah saat ini sedang defisit dan prestasi makro ekonomi cuma belum sampai terpuruk. Jadi seharusnya melihat kenyataan yang terjadi pada pasar secara detil apa keluhan mereka.

Stabilitas makro penting tapi itu saja tidak cukup sebab ukuran sukses sesungguhnya di sektor riil atau mikro. Sedangkan di sektor mikro kita sedang babak belur.

Ketiga, Bersyukur dengan kebijakan Presiden Jokowi terus giat membangun infrastruktur yang manfaatnya dalam jangka menengah dan panjang akan mengangkat ekonomi Indonesia. Demikian beberapa saran Rahman kepada Presiden Jokowi.****

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa