Di Mana Tuhan Dalam Kasus Ahok?

images
Ilustrasi/net

Oleh:

Moh. Ilyas

(Pemerhati Sosial, Politik, dan Agama)

KASUS Ahok fenomenal. Ia tak hanya menyedot perhatian masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia internasional, mulai dari Uni Eropa bahkan hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Apakah perhatian yang cenderung mengarah pada intervensi Internasional terhadap kasus Ahok ini adalah bagian dari pintu menuju proxy war seperti sering disuarakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belakangan ini?

Tulisan ini tidak sedang diarahkan terhadap persoalan proxy war, yang merupakan bagian dari modus perang asimetris yang bersifat irregular dan tak dibatasi oleh besaran kekuatan tempur atau luasan daerah pertempuran.

Tulisan ini hanya difokuskan pada fenomena kebertuhanan rakyat Indonesia, terutama dalam melihat kasus gubernur DKI non-aktif tersebut.

Perhatian besar terhadap kasus Ahok juga begitu nyata terlihat di dunia maya. Pasca-putusan hakim yang memvonis Ahok 2 tahun penjara setelah menjalani 21 kali sidang, dunia sosial media langsung dihebohkan dan disesakkan dengan mengumbar-umbar nama Tuhan, baik dari pendukung maupun yang kontra Ahok.

Kondisi ini pun tak luput dari sorot pena BBC pada 9 Mei 2017 yang menurunkan tulisan bertajuk “Vonis Dua Tahun Ahok: Ketika Nama Tuhan Disebut”.

Pasca-putusan bersalah dan penjara dua tahun untuk Ahok, lebih dari 280.000 kicauan di Twitter.

Segera setelah keputusan itu dibacakan, pekikan “Allahu Akbar” menggema di Twitter -dan dalam beberapa saat sempat menjadi topik populer. Pun juga di sosial media lainnya, seperti WhatsAppdan Facebook.

“Allahu Akbar, Majelis Hakim Ahok hidupkan kembali Pasal 156a (penodaan agama) yang sudah didrop Jaksa. Ini sesuai fakta hukum yang terbukti,” kata pengacara Mahendradatta di Twitter yang telah lama menegaskan posisinya dalam kubu anti-Ahok.

“Dua Tahun… Alhamdulillah… Allahu Akbar!!” cuit anggota DPD RI Fahira Idris.

“Sebentar lagi, takbir akan berkumandang diiringi sujud syukur! Ahok dipenjara! Allahu Akbar!!!” kata yang lain.

“Takbir! Allahu Akbar. Saya akan gundul (potong rambut),” kata salah satu anggota grup di aplikasi WA.

Namun tidak hanya di kalangan pihak yang kontra Ahok, di kalangan pro-Ahok pun, nama Allah (atau Tuhan) juga dipakai untuk menyampaikan sendu dan harapan.

“Tuhan bersama Ahok. Keadilan dan kebenaran akan hadir pada waktu yang tepat,” kata Ahokers Zuhairi Misrawi‏ @zuhairimisrawi.

Lainnya berkata, “Yang sabar ya Pak Ahok.. Tuhan tidak akan biarkan kita tergeletak.”

“Sometimes we win, sometimes we learn.. May God always be with you sir, you will never walk alone.. #Ahok,” kata @William_KS melalui Twitter.

*Di Mana Tuhan?

Ada kelaziman bahwa manusia dalam kondisi kepepet akan menyebut-nyebut Tuhan. Ia akan melibatkan peran Tuhan, terutama ketika rasionalitas manusia sudah tak mampu lagi menyelesaikan persoalan yang dialami.

Logika Ketuhanan yang tak terjangkau logika kemanusiaan menjadi salah satu pertimbangannya.

Salahkah yang demikian itu? Justru itulah yang mesti dihadirkan manusia dalam pengalaman-pengalaman kesehariannya guna mendatangkan kesadaran-kesadaran universal tentang peran Tuhan. Bahwa Tuhan mboten sare (tidak tidur), Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan juga Maha Adil.

Upaya menghadirkan Tuhan ini sebagai bentuk kerinduan manusia yang bersifat imanen kepada Pencipta yang transenden. Dan, inilah ciri-ciri kaum beragama yang selalu melandaskan gerak-geriknya kepada Tuhan Semesta Alam.

Ciri ini jauh berbeda dari kaum Atheis yang menyebut-nyebut dirinya tidak bertuhan (meskipun dalam sebagian pandangan disebutkan bahwa sejatinya tak ada manusia yang tidak ber-Tuhan, karena ketika dalam kondisi terdesak, mereka akan mencari kekuatan-kekuatan di luar dirinya, di luar nalar individu. Mereka mencari tuhan (t) untuk menemukan Tuhan (T).

Bagi umat Islam, gema-gema takbir yang dikumandangkan dalam setiap Aksi Bela Islam (1, 2, dan seterusnya), atau dalam setiap majelis-majelis dzikir yang selalu dikumandangkan, terutama misalnya oleh Habib Rizieq Syihab dengan teriakan “Takbir!”

lalu disambut dengan “Allahu Akbar”, adalah manifestasi dari kerinduan ini. Umat Islam merasa hanya peran Tuhanlah yang mampu menjungkalkan kesombongan manusia yang ditopang dengan berbagai skenario Insani.

Umat Islam terlihat membutuhkan skenario Rabbani untuk melawan skenario produk manusia. Aksi penuh harap akan skenario Rabbani ini terlihat dalam Aksi 212, yang ‘hanya’ melakukan doa dan shalat Jumat di Silang Monas dan sekitarnya.

Lalu, di mana posisi Tuhan sebenarnya dalam kasus Ahok? Jawaban dari pertanyaan ini tentu menjadi sangat relatif, karena penilaiannya tidak berpijak pada wilayah hakikat.

Jika mengikuti ajaran kaum Relativism, maka yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah, yang dianggap dekat dengan ajaran tuhan dan jauh dari ajaran tuhan tergantung pada masing-masing orang dan budaya masyarakatnya. (Mangunhardjana, 1997. 203-206), yang banyak dianut oleh Protagras, Pyrrho, dan pengikut-pengikutnya, maupun oleh kaum Skeptik.

Jika Relativisme yang jadi dasar berpikir kita, akan sulit ditemukan di mana kita, posisi kita, dan tuhan kita, terutama di saat kita harus menentukan dua pilihan: baik dan buruk.

Maka kesimpulan sementara yang muncul adalah bahwa dalam Tuhan, termasuk dalam kasus Ahok, ada dalam pikiran kita masing-masing. Tuhan bersama rasionalitas dan naluri kemanusiaan kita.

Kendati begitu, Islam tidak membiarkan rasionalitas manusia berdiri sebagai avant garde yang menyetir, mengendalikan, mengontrol kehidupan kita.

Meski dalam batas tertentu, rasionalitas manusia sangat dibutuhkan, tetapi ia tetaplah dibatasi oleh kebertuhanan, kepercayaan, dan keyakinan manusia, sebagai pintu membangun kesempurnaan manusia itu sendiri.

Dengan kata lain, akal tak lebih hanya sebagai penunjang awal untuk melihat di mana kita dan posisi Tuhan kita. Setelah itu, kita akan dihantarkan pada apa yang disebut shautu adh dhamiir (hati nurani) melalui qalb (hati).

Oleh karenanya, dalam satu kesempatan Nabi Muhammad SAW, pernah berpesan jika kita ambigu dalam menentukan sesuatu, baik dan buruknya, maka mintalah fatwa pada hati kita, karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu.

Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa” (HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam _Shahih At Targhib [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi”).

Maka, Tuhan tidak berdiri dalam rasionalitas kita, melainkan dalam hati sanubari kita. Tuhan juga tidak alenggi (Madura: duduk) dalam perasaan manusia.

Tetapi dalam ajaran-ajaran ketuhanannya yang diajarkan kepada manusia melalui para Nabi dan Rasul-Nya dan juga melalui kitab-kitab Samawi yang mengajarkan Monoteisme, yakni Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Quran. (Lihat: Qs. 47: 33 dan Qs. 64: 12).

Wallahu a’lamu bi ash-shawab

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa