‘Catatan Khusus’ Misteri Dibalik Arogansi Ahok

Oleh: Rahman Latuconsina (Presidium MAK)

Pilkada serentak atau Pesta Demokrasi terbesar masyarakat Indonesia kembali akan digelar tahun 2017 nanti, namun aroma ketatnya pertarungan sudah tercium jauh sebelum hari pelaksanaan.

Bahkan jauh dari ‘Arena Pertandingan’ para Pihak yang terlibat langsung atau sekedar partisan hangat membahas hal ini, dan dari berbagai daerah yang akan menggelar Pesta Demokrasi ini DKI Jakarta merupakan titik Pejaringan Kepala Daerah terpanas dan paling menarik di Perbincangkan Masyarakat Jakarta atau Masyarakat diluar Jakarta sekalipun.

Ini bukan permasalahan DKI Jakarta merupakan Ibu Kota dari NKRI, atau sekedar Daerah yang tingkat Plurarisme tertinggi dibanding Daerah-daerah lain, karena memang di Jakarta semua suku yang ada di Indonesia hadir dan menjadi Masyarakat Ibukota.

Harus kita akui bahwa sosok Basuki Tjahya Purnama atau yang akrab di sapa Ahok menjadi bagian terpenting yang tidak pernah terlewatkan dalam setiap Pembahasan Pilkada atau Pilgub DKI Jakarta.

Bisa dikatakan Ahok menjadi treding topic Pilgub DKI Jakarta. Penulis berkeyakinan ini bukan karena Ahok incumbent atau Kampium Periode tahun lalu, sekedar mengingatkan Ahok tidak pernah memenangi Pilgub DKI Jakarta sebaga Gubernur. Jadi Masyarakat DKI Jakarta belum pernah memililh Ahok sbg Pemimpin mereka, dan bisa dikatakan Pilkada ini menjadi ajang Pembuktian “Like or Dislike” warga Jakarta terhadap sosok Ahok.

Kembali ke alenia pertama pada Paragraf ini, ada hal lain yang menjadikan Ahok Populer dan patut diperbincangkan pada Pilkada DKI Jakarta kali ini, dan penulis percaya bahwa pembaca mempunyai versi yang beragam menyimpulkan popularitas sosok Ahok.

Ada bagian yang terlewatkan pada perbincangan sosok Ahok, bahwa Ahok di tunjuk sebagai Plt dan diangkat sebagai Gubernur DKI Jakarta Pasca Jokowi ‘nyapres’ dan memenanginya sebagai Presiden NKRI ke-7, bahwa Ahok dan Jokowi pernah mengalami bulan madu pasca memenangi Pilkada DKI Jakarta periode tahun lalu, bahwa Ahok pernah menjadi patner Sang Presiden, bahwa Ahok dan Jokowi punya sejarah dan cerita;

Lalu kemudian apakah semua ini ada hubungannya dengan sikap arogan dan ‘semau gue’ (baca: egois) yang menjadi ciri Khas kepemimpinan Ahok???

Sebagian orang berpendapat bahwa ada ‘naga’ yang menjaga Ahok dibalai kota, dan Pawang Naga tersebut ada di Istana.

Ada dugaan bahwa Ahok sampai dengan hari ini selalu lolos dari jerat Hukum (Baca: Kasus UPS dan Sumber Waras) karena back up dari sang Naga tersebut. Lalu kemudian muncul pertanyaan, Jokowi kah pawang Naga tersebut???

Lalu kemudian akan ada pertanyaan menarik selanjutnya, apa kepentingan Jokowi melindungi Ahok? Apa Jokowi terlibat pada serangkaian dugaan Korupsi yang dialamatkan ke Ahok? Secara Jokowi merupakan atasan Ahok pada saat perbuatan Tindak Pidana Korupsi itu berlangsung.

Dalam teori Politik, Kepentingan adalah segalanya. Jika pemaparan penulis diatas benar terjadi, maka Ahok merupakan anak Emas sang Presiden, karena Ahok punya truff yang bisa melumpuhkan Jokowi. Disatu sisi Ahok bukan tipikal orang yang mudah dijinakkan, sosok keras dan petarung sejati melekat dalam diri pejabat yang satu ini.

Bisa jadi hal ini yang membuat Jokowi berhitung cermat menghadapi Ahok. Hal ini jauh berbeda ketika SBY menyodorkan Para pioner nya guna menyelamatkan dirinya pada Mega-Skandal Century,  situasi dan kondisinya memang jauh berbeda.

Saat itu Kasus Century muncul ke permukaan dan SBY mau tidak mau harus mengambil langkah cepat yang bersifat antisipasi, bahwa harus ada yang menjadi Tumbal. Berbeda dengan posisi Kasus UPS dan Sumber Waras, dr sisi Nilai Korupsi serta hasil Penyelidikan dan Penyidikan bahwa belum mengarah ke Istana.

Pilkada DKI Jakarta akan menjadi catatan penting dan jawaban atas arogansi Ahok selama ini. Karena itu Penulis berkeyakinan bahwa Suara pejabat bisa dikendalikan, Suara Polisi bisa diarahkan, begitupun suara Juri, Hakim dan Jaksa semua bisa dikondisikan, tapi tidak dengan suara Rakyat, karena suara Rakyat adalah suara Tuhan.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa