Bugis Jawa Di Pidato Negara

images (1)Oleh :

Saifuddin Al Mughniy

OGIE Institute Research and political Development.

Mungkin ini hal yang baru bahkan bisa sedikit kontroversi bila kita sedikit secara emosional memahaminya. Ada banyak fenomena terkadang menjebak kita pads persepsi dan perspektif yang keliru bila kita tak mengenal obyeknya.

Sigmund Freud menyebutnya, bila kita tak mendapatkan dari ilmu pengetahuan, maka bias kita dapatkan ditempat yang lain. Artinya, pengetahuan begitu penting menuntun kita untuk memahami sesuatu.

Media adalah sarana transformasi yang demikian cepat berkembang senafas dengan perilaku manusia. Tak sedikitpun ruang yang kosong dari tangkapan media.

Kekuatan sosial media telah membentuk “manusia tanpa dinding”. Nah, dari itu, media telah tampil membawa misi kebudayaan (culture mission), kearifan lokal kian digeluti sebagai tiang penyanggah peradaban ummat manusia.

Kesadaran itu terasa mulai hadir, saat ini nampak kebhinnekaan di daras dari ruang istana, Presiden Jokowi dan wakil presiden Jusuf Kalla keduanya tampil memukau. Persilangan budaya bugis makassar dengan Jawa nyaris menjadi viral sekaligus sorotan publik.

Pakaian adat Bugis yang dikenakan Presiden tampil seperti “Arung” di tanah bugis. Sementara wakil presiden dengan pakaian adat Jawa begitu nampak kebangsawanan Kratonnya.

Makna silang kebudayaan itu tentu mengandung arti,

(1), memberi isyarat tentang kehidupan kebhinnekaan.

(2), sebagai petanda kekuatan kearifan lokal yang merupakan pilar inti tegaknya kehidupan berbangsa.

(3), bahwa apapun alasannya kebudayaan adalah bagian terpenting dari kekayaan bangsa ini.

(4), untuk menepis egosentrisme politik dari klan tertentu, dalam pengertian bahwa kekuasaan dan politik bukan hanya milik kelompok tertentu tetapi ia adalah milik masyarakat bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, di usia 72 kemerdekaan Indonesia paling tidak membuktikan bahwa pemimpin bangsa ini tentunya masih menjunjung nilai-nilai kearifan lokal sebagai akar kebangsaan.

Pidato kenegaraan bukanlah sekedar “ceremonial” belaka, tetapi perlu dipahami bahwa pidato itu mengandung unsur ke-Indonesia-an yang baik. Mulai dari tatanan ekonomi hingga politik serta lingkungan.

Karenanya, sebagai generasi penerus bangsa wajib kiranya kita melakukan perenungan sejarah. Bukankah Soekarno pernah berucap bahwa, perjuanganku melawan penjajah begitu mudah, tetapi perjuangan kalian begitu berat karena kalian akan berhadapan dengan bangsa sendiri.

Yah, demikian kita rasakan saat ini, kesenjangan ekonomi-sosial antara si kaya dan si miskin begitu tajam. Disparitas sosial antara penguasa dengan rakyat begitu berjarak. Karenanya, kearifan lokal diharapkan hadir untuk memutus “mitos” kekuasaan yang seklet.

Dan Jokowi JK telah melakukan itu walau hanya ditandai dengan pakaian adat. Lalu kenapa kita tak dapat melakukannya ? mungkin hanya Tuhan bisa menjawabnya.***

Istana Penulis, 16 agustus 2017
*sebuah catatan kecil seri 102*

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa