BK : Saatnya Wujudkan SOKSI Satu & Satu Soksi

Klikaktifis.com – Eksistensi dan peran kekaryaan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) di Indonesia sudah tidak perlu di pertanyakan lagi.

Kiprahnya dalam bersama-sama semua komponen dalam membangun Bangsa Indonesia sudah diakui.

“Termasuk kiprahnya bersama-sama dengan dengan Kosgoro dan MKGR dalam wadah Sekber yang kemudian melahirkan Golongan Karya (Golkar)”, ujar Hendryk L. Karosekali Ketua Umum Depipus Baladhika Karya Brigade SS pada redaksi di Jakarta, Selasa (06/09).

IMG-20170906-WA0012

Menurut Hendryk, Posisi SOKSI yang “melahirkan Golkar” telah menjadikan SOKSI sebagai salah satu basis kaderisasi Golkar. Termasuk setelah Golkar berubah menjadi Partai Golkar pada era kepemimpinan Bapak Akbar Tandjung.

Kiprah perjuangan SOKSI bersama Partai Golkar dalam membangun bangsa dari masa ke masa tentunya linier dengan kiprah para kader-kader SOKSI dalam membangun bangsa, di berbagai pelosok nusantara.

Posisi yang strategis tersebut menjadikan SOKSI sebagai organisasi yang memiliki “nilai tawar” yang cukup tinggi, baik dalam kancah politik nasional maupun dalam kancah sosial sebagaimana layaknya organisasi sosial kemasyarakatan lainnya.

Pada Musyawarah Nasional ke IX tahun 2010, di Puncak – Bogor, dinamika perebutan kursi ketua umum yang berjalan sangat dinamis serta sarat dengan perbedaan pendapat menjadi titik awal perpecahan yang melanda SOKSI sampai saat ini, sebut Hendryk.

Hendyk menceritakan, dua kubu secara tegas mendeklarasikan diri sebagai organisasi dan kepemimpinan yang paling kostitusional. Yakni kubu SOKSI di bawah kepemimpinan Ade Komarudin pada satu sisi dan kubu SOKSI di bawah Kepemimpinan Rusli Zaenal pada sisi lain.

Dualisme kepengurusan tersebut, bukan hanya terjadi pada level pusat, tetapi telah terjadi juga pada level daerah dan basis-basis SOKSI.

Pada perkembangan selanjutnya, saat ini paling tidak ada empat kubu Depinas SOKSI, yakni kubu SOKSI dengan Ketua Umum Ade Komarudin, Kubu SOKSI dengan Ketua Umum Bapak Rusli Zaenal dan Ketua Harian Bapak Suhardi dan Sekjen Bapak Muas, Kubu SOKSI dengan Plt Ketua Umum Bapak Ali Wongso dan kubu Presidium SOKSI dengan Ketua Umum Lauren Siburian.

Akibat konflik berkepanjangan yang demikian, kerugian besar tentunya dirasakan oleh semua keluarga besar SOKSI termasuk para kade-kader SOKSI.

Bukan hanya kerugian dan dampak politik SOKSI di internal Partai Golkar, tetapi juga dapat berdampak cukup signifikan bagi terhampatnya ruang aspirasi kader-kader SOKSI di Partai Golkar.

Gagasan beberapa senior dan tokoh-tokoh SOKSI untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan SOKSI termasuk melalui penyelenggaraan MUNAS Bersama sebagai wahana untuk mempersatukan SOKSI ternyata tidak berjalan dengan mulus.

Beragam argumen dan pendapat mengemuka sebagai bagian dari rencana Munas Bersama dalam rangka mempersatukan kubu-kubu yang ada di SOKSI.

Kondisi yang demikian, tentunya menimbulkan keprihatinan kami, dari generasi Muda SOKSI yang tergabung dalam Baladhika Karya Brigade SS yang notabene adalah tonggak penerus estafet kepemimpinan dalam tubuh SOKSI.

Berkenaan dengan hal tersebut, kami dari Baladhika Karya Brigade SS menyatakan sikap

Pertama kata Hendryk, Meminta kepada semua pihak, baik Kubu SOKSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Ade Komarudin, Kubu SOKSI dengan Ketua Umum Rusli Zaenal dan Ketua Harian Suhardi dan Sekjen Muas.

SOKSI di bawah kepemimpinan Plt Ketua Umum Ali Wongso, maupun SOKSI di bawah ketua Presidium Lourens Siburian untuk dapat duduk bersama-sama, melakukan dialog dan perumusan formula dalam rangka mempersatukan SOKSI.

Hal ini semata-mata demi mengembalikan kejayaan SOKSI sekaligus mengembalikan SOKSI sebagai salah satu wadar kaderisasi Partai Golkar.

Kedua, Meminta kepada semua kubu, untuk dapat menurunkan “ego masing-masing” dan mengedepankan semangat persatuan, kesatuan dan kebersamaan, sebagai hakekat dan manifestasi dari Doktrin Karyawanisme.

Ketiga, Meminta semua pihak agar mengedepankan semangat karya ke karyaan sebagai bagian integral SOKSI melalu kiprahnya dalam membangun bangsa serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tentunya dengan berlandaskan pada Doktrin Karyawanisme.

Keempat, Meminta kepada para sesepuh dan pinisepuh diantaranya adalah Oetoyo Oesman, Adolf Rahman, Mustahid Astarie, FMT Raja Gukguk, Boby Suhardiman, dan beberapa senior-senior lain, agar seyogyanya dapat mengambil langkah-langkah strategis.

Sekaligus sebagai inisiator untuk mempertemukan semua kbu-kubu tersebut, demi persatuan dan kesatuan SOKSI, manakala langka-langkah dialogis antar kubu gagal untuk dilaksanakan atau menemui jalan buntu. Demikian Hendyk.****

 

 

 

 

 

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa