BEMSI : Jokowi Pelan-Pelan Bunuh Rakyatnya Sendiri

IMG-20170525-WA0023Klikaktifis.com – Aksi Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dengan tajuk Kebangkitan Bagian dari Perubahan. Aksi yang berskala nasional ini digelar oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di lingkungan Istana Negara.

Ribuan masa aksi yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai kampus di seluruh Indonesia dan buruh, datang berbondong-bondong untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Aksi Harkitnas membawa tujuh gugatan rakyat (Tugu Rakyat) di antaranya Pertama, Wujudkan jaminan pendidikan nasional dan layanan kesehatan yang berkualitas dan membebaskan.

Kedua, Hilangkan dominasi asing, dan nasionalisasi aset-aset bangsa untuk kedaulatan pangan, energi dan maritim.

Ketiga, Jamin keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat dalam bentuk subsidi listrik dan BBM.

Keempat, Turunkan Setya Novanto dari Ketua DPR RI beserta kroni-kroninya sebagai upaya berantas praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sampai ke akar-akarnya.

Kelima, Wujudkan supremasi hukum, tindak tegas pelaku kejahatan seksual dan perdagangan manusia.

KenamTegakkan demokrasi, tolak pembungkaman dan tindakan represif aparat negara.

Tujuh, Wujudkan reforma agraria, tolak pendirian pabrik semen di Rembang dan proyek reklamasi di Teluk Jakarta dan Teluk Benoa.

Selain Tugu Rakyat, mahasiswa membawa satu tuntutan utama, yaitu bertemu dengan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Tujuan dari pertemuan ini adalah mendiskusikan tentang kepentingan rakyat yang berkaitan dengan Tugu Rakyat.

Presiden Jokowi, pada awal pemerintahannya, dikenal dengan Presiden Wong Cilik, presiden yang berpihak pada rakyat kecil. Tetapi mahasiswa menemukan bahwa, berjalan tiga tahun menjabat, kepentingan rakyat kecil lebih banyak dikesampingkan.

Mahasiswa melalui orasi-orasi ilmiah menyampaikan beberapa fakta mengenai ketidakpedulian pemerintah terhadap rakyat kecil. Nelayan di Teluk Jakarta saat ini kesulitan untuk mencari nafkah akibat proyek reklamasi, pemerintah masih diam.

Petani dengan penghasilan yang minim akibat negara yang lebih memilih impor beras, pemerintah pun masih diam. Seharusnya, dengan kekuasaan yang dipegang, reklamasi bisa dihentikan dan kebijakan untuk lebih mengutamakan beras dalam negeri bisa ditentukan.

Di sisi lain, saat keadaan pemasukan rakyat kecil belum mengalami perubahan bahkan menurun, subsidi listrik dicabut dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus meningkat.

“Tidaklah berlebihan jika saya katakan, pemerintahan Jokowi ini tengah pelan-pelan membunuh rakyatnya sendiri,” ungkap Panji Laksono, Ketua BEM KM Institut Pertanian Bogor, Kamis (25/05).

Presiden Jokowi yang menjadi tujuan dilaksanakannya aksi kali ini, ternyata sedang berada di Bogor untuk menyambut Presiden Swedia.

Para Presiden Mahasiswa (Presma) BEM SI akhirnya dituntun untuk melakukan audiensi di Gedung Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dengan Jaleswari Pramodharwardani, Deputi V Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan HAM Strategis.

Karena tuntutan utama mahasiswa adalah untuk bertemu dan berdiskusi dengan Presiden Jokowi terkait Tugu Rakyat, tidak banyak hal yang diperbincangkan dengan Jaleswari selain meminta bantuan untuk mempertemukan mahasiswa dengan presiden.

Namun, Jaleswari dan staf-staf lain di Sekertaris Kepresidenan justru kembali menyarankan kepada mahasiswa untuk mengikuti jalur administratif.

Namun mahasiswa menolak karena jalur tersebut memang sudah dilakukan sebelumnya, dan berkali-kali tidak dikabulkan. Mahasiswa memutuskan untuk menunggu hingga Presiden Jokowi kembali ke Istana Negara.

Menjelang maghrib, para Presma diancam, jika tidak meninggalkan gedung secepatnya maka masa aksi akan dibubarkan secara paksa.

Mahasiswa meminta waktu untuk berdiskusi, namun terus diinterupsi, dengan alasan para Presma harus segera keluar demi keselematan mahasiswa-mahasiswa lain yang berada di luar gedung. Sekitar pukul 18.30 WIB.

Para Presma diancam serta dikeluarkan paksa dari dalam gedung Wantimpres sehingga akhirnya keluar dan menemui masa aksi. Tuntutan aksi kembali tidak terpenuhi.

Mahasiswa harus menelan kekecewaan lagi atas ketidakpedulian Presiden Jokowi. Tidak mudah bagi mereka memperjuangkan waktu dan materi untuk menyuarakan jeritan rakyat.

Namun perjuangan itu tidak dihargai, bahkan tidak jarang dihalangi oleh sikap represif aparat negara. Mahasiswa menyayangkan mata dan telinga mereka yang tertutup dari jeritan rakyat.

“Berjuang itu tidak mengenal titik koma. Besok kami akan semakin berlipat ganda”, tegas Wildan Wahyu Nugroho, Koordinator Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEMSI).****

Source : BEMSI

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa