Belajar Dari Iliona & Halleispontus

IMG-20160727-WA0074

Oleh : Saifuddin Almughniy

OGIE institute Research and Political Development.

***

Dalam banyak kesempatan kita tentu tak dapat mengelakkan diri dari berbagai warna warni pemberitaan dimedia tentang persoalan politik, demokrasi, kepemimpinan yang tentu memunculkan pro kontra sebab mungkin itu sebuah pilihan berdemokrasi “salah benar” hal yang biasa.

Namun yang tak habis pikir buat saya adalah sepertinya ada sebuah orderan politik yang dibalut media dengan menampilkan AHOK atau bernama lengkap Basuki Tjahja Purnama mantan Bupati Belitung Timur ibukotanya Manggar [saya tau betul] sebab saya pernah sekolah disana.

AHOK, yang menurutku bukanlah siapa-siapa dibanding Gubernur SulSel pak SYL, Gubernur Jateng pak Ginanjar, Walikota Surabaya bu Risma, Walikota Bandung Bang Kamil, Bupati Bantaeng Prof. Nurdin Abdullah  dan sederet pemimpin daerah yang lainnya.

Sebab menurutku pemimpin yang hebat itu adalah bukan tipikal pemarah tetapi peramah. Kecerdasan emosional bisa saja dipakai dalam kepemimpinan, tetapi conscience atau kecerdasan hati nurani juga begitu penting. Model kepemimpinan AHOK tentu jauh dari nilai conscience itu tadi.

Sebab ada pernyataannya yang sama sekali tidak humanis ketika orang miskin bagi jakarta bukanlah tempatnya, sebab Jakarta hanya dihuni sikaya dan orang yang beruntung, tentu dalam hal ini justru AHOKNYA yang ngaco bukan yang lain sebagaimana yang seringkali muncul dari lisannya “ngaco dan tai” sebuah komunikasi politik yang tidak mendidik.

Sebagai kilas balik bahwa Ahok pun pernah kalah bertarung dengan Eko Maulana di Pilgub Bangka Belitung, itu berarti apanya yang harus dibesar2kan en toh dikampung sendiri kok kalah. Hanya saja kalau kita membaca sebuah referensi politik dari Nicholas Machievelli, bahwa seseorang yang dilahirkan jadi pemimpin karena kebetulan sebenarnya ia adalah boneka.

Sejarah di kota Iliona dan Halleispontus Yunani hampir semua raja2 diangkat oleh Darius Raja Persia yang berhasil menundukkan wilayah mereka, Raja Darius sengaja mengangkat para raja demi memperkokoh posisinya sebagai raja.

Dalam perspekrif ini, saya coba menganalisa bahwa Ahok adalah pemimpin yang kebetulan, karena Jokowi terpilih jadi presiden maka Ahok menggantikannya sbg Gubernur DKI bukan sbg prestasi bukan,? sekarang dalam berbagai dinamika Ahok di cintai sekaligus dimusuhi, dan ketika Ahok mengatakan bahwa BPK sbg lembaga negara ngaco, maka sang Presiden pun diam tak bergeming, apa karena kolega politiknya di pilgub DKI yang lalu, atau boleh jadi pak Jokowi bertindak sebagai Raja Darius..?

Bahkan nampak dengan Jelas bagaimana tipikal sosok presiden yang memerankan Raja Darius dalam perombakan kabinet tergambar secara fulgar untuk menyelamatkan raja-rajanya dalam hal ini Ahok terkait reklamasi dan sumber waras.

Spekulasi politik demikian menyeruak dipermukaan, kolega politik yang sama sekali tak tersentuh karena perkara “muhrim politik”, tak adil rasanya bila reposisi karena hanya pemenuhan posisi koalisi.

Dan inilah yang dikuatirkan Favid Easton dengan Robert Dahl (1974), bahwa oposisi jarang mampu bertahan ditengah transisi demokrasi. Terbukti koalisi melemah saat ruang kepentingan begitu sempit, dan Jokowi membaca itu.

Tapi tidak etis bagi seorang pemimpin kehilangan nurani sekedar menjawab kecemasan politik, dan kalau ini terjadi maka pemimpinnya bisa galau. Kalau pemimpinnya galau maka negaranya kacau, bukankah para filsuf berucap sebuah kedamaian negara hanya bisa tercipta dari manusia “berbudi” yang mengendalikan realitas dengan akal bukan karena kekuasaan.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa