Apa kabar Uang Negara Di Kemenpora?

Oleh

Andeni Apri Y

Sejauh ini belum kami dapatkan informasi dari dua kasus potensi kebocoran uang negara pada Kementerian pemuda dan olahraga yang dipimpin Imam Nahrowi.

Kasus yang kami maksud adalah berdasarkan rilis Center for Budget Analysis, yakni dua sumber kebocoran uang negara pada kemenpora.

Pertama, Proyek Pengadaan Alat Biomekanik Dukungan Analisis Biomekanik Program Indonesia Emas.

Kedua, pada proyek Pekerjaan Pengadaan Barang Dalam Rangka Fasilitasi Alat Peraga Olahraga Pendidikan, untuk disalurkan ke 1.400 sekolah di seluruh Indonesia.

IMG-20170511-WA0001

Dari catatan CBA, dua kegiatan tersebut anggaran yang dihabiskan mencapai angka Rp 106.840.366.915,- yang menjadi persoalan dalam proyek tersebut diduga terdapat potensi kebocoran uang negara yang mencapai puluhan miliar seperti yang diungkapkan CBA.

Menurut Lembaga besutan Uchok Sky Khadafi tersebut, kebocoran anggaran sudah terjadi sejak proses lelang, lantaran diduga ada permainan kotor antara pihak Kemenpora dengan pemenang proyek. Adapun total uang negara yang berpotensi hangus mencapai Rp. 27.217.216.915,-.

Keputusan kemenpora yang lebih memilih perusahaan dengan harga penawaran yang lebih tinggi sangat aneh dan janggal, kita lihat mulai dari yang pertama yaitu proyek Pengadaan Alat Biomekanik Dukungan Analisis Biomekanik Program Indonesia Emas yang sempat ditawarkan oleh perusahaan MM senilai Rp 28.716.600.000.

Tapi penawaran tersebut digugurkan begitu saja oleh pihak Kemenpora dengan alasan yang seperti dibuat-buat sehingga mereka memenangkan pihak PT. PNMS dengan nilai Rp 34.482.859.000,- dari proyek ini ditemukan potensi kebocoran uang negara sebesar Rp 5.766.259.000,-.

Selanjutnya, nilai yang tidak kalah fantastis, potensi kebocoran uang negara ada pada Pekerjaan Pengadaan Barang Dalam Rangka Fasilitasi Alat Peraga Olahraga Pendidikan.

Karena pada proyek ini uang negara yang seharusnya bisa dimanfaatkan pada kegiatan lain yang lebih membutuhkan harus lenyap begitu saja akibat pihak Kemenpora benar-benar tidak memilih untuk berhemat.

Seandainya saja pihak kemenpora bisa selektif dan cermat maka uang negara senilai Rp 21.450.957.915,- tidak akan hilang begitu saja.

Berdasarkan data yang disampaikan CBA, kebocoran anggaran tersebut disebabkan karena pihak Kemenpora memenangkan PT. ASM dengan nilai kontrak yang tidak masuk akal dan mengesampingkan tawaran dari perusahaan yang lebih murah dan efisien.

Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi publik, apakah proyek-proyek yang dijalankan Kemenpora selama ini sesuai prosedur atau ada permainan kotor yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab di tubuh Kemenpora dengan pihak perusahaan tertentu.

Dari dua kasus di atas publik sudah merindukan ketegasan dari sebuah lembaga anti korupsi pada bangsa ini, karena sepertinya kasus ini mangkrak bahkan terlihat tidak ada kejelasan baik dari pihak Jaksa Agung maupun KPK yang sudah sepantasnya menyampaikan kepada publik terkait dua kasus ini.

Jangan sampai publik hilang kepercayaan akibat ketidak jelasan daripada penyidikan kasus-kasus yang ada ini.

Semenjak terbitnya rilis CBA pada pertengahan bulan maret lalu sampai saat ini publik tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana kelanjutan dari kasus-kasus tersebut.

Disini publik semakin tegas menanyakan sudahkah pihak KPK ataupun Jaksa Agung memanggil dan Memeriksa Orang-orang terkait yang diduga terlibat pada kasus ini, seperti Menteri Imam Nahrowi, Sesmen Gatot S. Dewa Broto dan lain-lain.

Bila perlu pihak KPK ataupun Jaksa Agung harus memeriksa pihak Unit Lembaga Pelelangan Kemenpora, karena proses tender itu dilakukan dan dijalankan oleh pihak ULP tersebut.

Panggil pihak pemenang Lelang juga, karena disini publik curiga bahwa perusahaan yang memenangkan lelang tender ini adalah Orang-orang yang mempunyai kedekatan husus dengan pihak internal kemenpora.

Lembaga Pelaporan Tindakan Korupsi

(LPTK)

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa