Air Mata Di Ujung Cinta

IMG-20160727-WA0075

Oleh

Saifuddin Almughniy

Ini bukan sebuah kemarahan, kesedihan maupun elegi yang menyakitkan. Aku melihat senja yang ranum dipelupuk langit, tanpa pelangi menyertainya, saat hitungan detik.yang beranjak menyapa syahdu alunan adzan disatu mesjid tua. Suara bak suara merdu Syekh Mishari Alfareesa yang teduh dan menyentuh kalbu. Terasa bagiku begitu jauh dari jarak tempuh niat, pikiran, angan-angan, hingga tak terasa butiran airmata terjatuh dipelataran Tuhan.

Bukan berarti, elegi itu menguburkan diri, cita dan cinta dalam belantara kemanusiaan. Tentu kita pernah membaca kisah cinta Khalil Gibran, Romeo dan Juliet, Zainuddin dengan Hayati dalam kisah Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, Rangga dengan Cinta, serta bagaimana kesedihan Buya Hamka sepeninggal istrinya, yang menghabiskan waktunya menyepi dan menyendiri dengan doa dan lantunan ayat-ayat suci yang membiarkan airmatanya kering dari bola matanya. Bahkan kisah Nabi Yakub tangisannya yang membutakan matanya.

Jalaluddin Rumi dalam senandungnya, menyebutkan bahwa sekiranya bukan karena keindahanmu, maka tak akan kutatap eksistensinya. Apa makna yang tersirat dari pesan Tuhan terhadap cinta, adalah.bahwa eksistensi cinta ada pada Tuhan, bukan pada eksistensi.yang meni-ada-kan.

Bagaimana kerinduan para sufi yang setiap sujud dan doanya mencucurkan airmata. Bagaimana para oejuang yang gugur dimefan perang tetap tersenyum walau seribu tombak menusuk jantungnya, bagaimana si miskin yang menahan airmatanya karena penderitaan, dan bagaimana seorang anak yatim yang terus meratapi mimpinya.

Namun kita berkeyakinan bahwa kekuatan cinta akan menggerakkan seluruh anatomi kesadaran kita untuk “memeluk Tuhan” dalam fase kerinduan. Sementara airmata akan menjadi jembatan bagi refleksitas proses kehidupan.

Sebagian orang menilai bahwa airmata sebagai simbol kesedihan, namun debagian yang lain menganggap airmata itu sebagai inspiring dari kesedihan menuju kemuliaan.

Maka, sejatinya menangislah karena kerinduan, untuk bertemu atas kekekalan, sebab Tuhan merindukan bagi yang merindukannya.

(catatan muhasabah)

saifuddin al mughniy

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa