Ahok Moncer. Gerindra ; Survey SMRC Tendensius, Pesanan Pihak Berkepentingan 

IMG-20160722-WA0083
Foto : Sulhy, Sekretaris Tim Penjaringan Calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra 

Klikaktifis.com – Survey yang di buat oleh SMRC (Saiful Mujani Research And Consolting) pertanggal 24-29 Juni 2016 menuai gugatan.

Hasil survey yang di publikasikan oleh SRMC di Jakarta, Kamis kemarin (21/7) itu menyebutkan Ahok unggul di semua simulasi bakal calon gubernur yang di buat SMRC di rentang 53%-60% baik di dukung parpol atau independen oleh Teman Ahok.

Dalam Surveynya, SMRC juga membuat simulasi jika pilkada DKI 2017 head to head jika,

Ahok (59,4%) vs Yusril Ihza (26,3%).

Ahok (58,4%) vs Tri Rismaharini (26,6%)

Ahok (61,1%) vs Sandiaga Uno (19,2%)

Ahok (62,8%) vs Sjafrie Sjamsoeddin (15,9%)

Ahok (62,2%) vs Adhiyaksa Daud (17,7%)

Ahok (63,0%) vs Djarot Syaiful H (15,5)

Ahok (63,4%) vs Haji Lulung (13,3%)

Secara terpisah saat di hubungi redaksi Jumat (22/7) Sulhy, Sekretaris Tim Penjaringan Calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra mengatakan, survey SMRC sangat tendensius ingin menggiring opini warga, katena tidak ada yang baru dari hasil survey tersebut mirip seperti rilis survey SMRC yang terdahulu.

Kata Sulhy saat survey dilakukan Ahok terlihat kuat larena Ahok sudah siap sebagai bakal calon dari petahana dan sudah menggalang dukungan sejak setahun lalu, ungkapnya.

Menurut Sulhy ada beberapa hal yang mempengaruhi antara lain. Pertama, calon petahana seolah super kuat, padahal belum ada satupun parpol yang mengusung secara resmi cagub dan cawagubnya, jadi tidak ada pembandingnya.

Kedua, variabel surveynya terlihat hanya menggiring responden tentang keberhasilan kinerja petahana selama memimpin hari ini, padahal parameter berhasil atau tidaknya kepemimpinan kepala daerah dapat dilihat dari serapan anggaran yang ternyata sangat rendah.

LHP BPK RI 3 tahun berturut-turut menempatkan predikat WDP (wajar dengan pengecualian) dan selalu ada temuan kerugian negara. Bahkan menurut survey lembaga resmi negara sekelas  BPS menyebutkan tingkat kemiskinan di DKI meningkat.

Ketiga, Survey tersebut juga menyebutkan program kepedulian sosial dan kepuasan masyarakat atas kinerja pembangunan begitu hebatnya. Hal ini mencurigakan segmentasi yang disurvey pasti tidsk jujur menyentuh hanya kepada responden yang menguntungkan petahana saja dan bukan pada mereka yang terkena dampak kebijakan petahana.

Keempat tambah Sulhy, SMRC juga tidak bisa menjelaskan secara logis tentang partai-partai ideologis seperti GERINDRA, PKS, PPP serta hampir semua parpol yang dikatakan juga mendukung petahana.

“Ini aneh apa parameternya tim survey dapat mengetahui sangat detail bahwa responden yang ikut setuju terhadap petahana itu kader partai? Karena seperti PKS yang pernah menyampakai hasil survey internalnya, 100% kader PKS yang di survey menyatakan tidsk memilih Petahana sebagai Cagub DKI 2017”, tegasnya.

Kelima SMRC sambung Sulhy lagi,  juga tidak mengelak ketika ada penanya dalam acara relese hasil survey yang menyatakan, sebaran survey tidak merata hanya di wilayah tertentu seperti Jakarta Barat, Utara dan Jakarta Pusat saja.

Oleh karena itu ujar Sulhy, terkesan survey SMRC pesanan dari pihak berkepentingan atau ABS (Asal Bapak Senang). Kami berharap SMRC bertanggung jawab dan mengembalikan kepecayaan kepada publik terhadap hasil surveynya.

“Dan kami sangat percaya rakyat Jakarta justru sudah cerdas, tidak akan tergiring oleh hasil survey. Rakyat nantinya akan realistis tidak akan memilih calon yang sudah teruji berbahaya terhadap kelangsungan hidupnya yang saat ini semakin memprihatinkan”, pungkasnya.****

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa