Ahok Menyiksa Masa Depan Cina

img-20160919-wa0110Natsir Al Walid

Wartawan/Aktifis Pemuda

Tinggal Di Jakarta

Sejak Ahok Menjadi Gubernur DKI ada banyak permasalahan yang terjadi di indonesia terlebih khusus di daerah Jakarta sendiri. Seperti yang akhir-akhir ini terjadi penggusuran di rawajati, pasar ikan, dan akuarium di Jakarta.

Penggusuran yang di lakukan oleh Ahok tersebut telah memancing singa pribumi untuk bangkit melawan segala tindakan yang seolah di anggap Ahok sebagai satu-satunya alternatif kebijakan.

Penolakan dan perlawanan masyarakat JAKARTA dalam penggusuran yang di lakukannya hingga memakan korban dengan luka parah karena berhadapan langsung aparat kepolisian, Brimob dan Sat Pol PP.

Ahok yang melakukan penggusuran tidak di lawan statis oleh rakyat Jakarta namun telah menjadikan mulut rakyat Jakarta dinamis membenci. Kebencian rakyat Jakarta padanya dengan berbagai bentuk yang menghadangnya. Bahkan kebencian itu merambat pada suku, agama dan ras melawan arogansi kepemimpinan Ahok di DKI selama ini.

Kebencian rakyat Jakarta terhadap Ahok tersebut tentunya telah terjadi implikasi buruk pada suku cina yang lain di Indonesia, suku cina yang oleh Tokok Tionghoa Lius Sungkharisma klaim sebagai suku yang santun, suku yang berhati nurani dan suku yang menghargai orang lain jika berada di dimanapun dan kapanpun termasuk di negara Indonesia. Namun justeru berbalik dibuat oleh Ahok menjadi suku yang rasis di hadapan publik.

Ahok tidak hanya di kenal oleh publik sebagai tukang pengusuran, sebagai pemimpin yang dzolim dan penindas namun lebih dari itu seperti kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya, tidak memiliki etika komunikasi politik baik sesama pejabat terlebih rakyat biasa, arogansi yang cenderung meng aku kan diri bahkan tidak mau merasa bersalah.

Berdasarkan itulah hingga kebencian rakyat Jakarta meluap pada dirinya walaupun tidak bertujuan mendiskreditkan eksistensi kesukuan, agama dan ras namun tetap mengganggu harmonisasi cina di Indonesia.

Kebencian itu terjadi sesungguhnya bukan kebencian-kebencian yang hanya datang dari mayoritas muslim saja sebagai objek yang terbukti mendapatkan diskriminasi Ahok selaku Gubernur DKI seperti penggusuran dan lain-lain, tetapi yang datang dari berbagai suku, agama lain bahkan kebencian itu datang dari suku cinanya sendiri.
Atas perbuatan dzolimnya itu Ahok telah membuat sejarah yang menggangu perjalanan generasi ke generasi, sejarah kebiadabannya Ahok akan menjadi simbolitas pengklaiman bagi generasinya dan menjadi beban yang berkebanjangan.

Maka mestinya kekuasaan yang di miliki oleh Ahok harus menjadi pusat harapan bagi rakyatnya, kekuasaan yang menjadi pelayan bagi rakyatnya bukan kekuasaan yang di berikan oleh rakyat kewenangan yang oleh Prof Ryaas Rasyd sebutkan sebagai kekuasaan yang sewenang-wenang.

Jika kekuasaan yang sebelumnya di anggap sebagai kontra politik antara rakyat dan penguasa dan dengan menggunakan kekuasaan untuk melanggarnya maka proses alamiah manusia akan terjadi yang oleh Hitler sebutkan sebagai sebuah kesadaran obyektifitas dan subyektifitas.

Maka kesadaran proses alamiah itulah yang akan membuat Ahok menjadi pemimpin yang di cap cacat dalam fakta sejarah.

Tidak bisa di nafikan bahwa dosa politik yang di lakukan oleh pelaku yang memiliki hubungan terlebih kesukuan, agama dengan yang lainnya akan cacat dalam catatan sejarah hingga menjadi beban moral bagi generasinya.

Pelaku politik yang baik dan benar akan manjadi tintah emas bagi kegenerasinya. Karena bagaimana pun juga manusia sebagaimana Aristoteles yang merupakan seorang ahli filsafat dari yunani, mengatakan bahwa pada hakekatnya manusia merupakan mahluk sosial (zoon politikon).

Oleh sebab itu, pada manusia terdapat suatu keinginan untuk hidup bersama yang pada akhirnya membentuk suatu negara yang bersifat totaliter.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa