Ahok “Fir’aun” Gaya Baru & Tirani Kekuasaan

img-20160921-wa0164Natsir Al Walid

(Penggiat Opini dan Jurnalis)

Fenomena Gubernur DKI Jakarta selama dua tahun belakangan ini menjadi pusat perhatian yang memilukan bagi rakyat Jakarta terhadap gaya kepemimpinan yang begitu sadis terhadap rakyatnya sendiri.

Kepemimpinannya Gubernur DKI “Ahok” selama beberapa tahun setelah Jokowi menjadi presiden dan jabatan Gubernur DKI Jakarta di alihkan ke Ahok, (estafet) Jakarta mengalami perubahan gaya kepemimpinan yang tragis dan sadis.

Perubahan gaya kepemimpinan di DKI Jakarta seyogyanya adalah tirani kekuasaannya sungguh membuat rakyat hidup larut di bawah tekanan yang membabi buta. Penggusuran yang di lakukannya pun terjadi di beberapa titik di DKI Jakarta atas nama kebijakan, kesenjangan sosial, angka kemiskinan semakin meningkat dan pengangguran yang menganga menempatkan demokrasi Indonesia pada puncak yang buruk.

Kekuasaan yang sejatinya menjadi tempat berlindung dan harapan rakyat namun justeru menjadi momok yang menakutkan, penindasan dan perampasan hak-hak rakyat kian menjadi-jadi atas nama kebijakan.
Jika tirani kekuasaan dalam catatan sejarah dunia, yang bahkan tidak segan-segan membunuh rakyatnya dengan cara yang tidak manusiawi demi tercapai sebuah ambisi pribadinya dengan gaya pembunuhan tradisional pada masanya.

Maka seyogyanya Ahok adalah Fir’aun gaya baru dan beberapa tirani kekuasaan lainnya. Hal tersebut dapat di runut dari berbagai persoalan yang terjadi di DKI Jakarta selama dua tahun belakangan ini.

Ahok dengan gaya kepemimpinannya yang tak ubahnya Fir’aun dan beberapa pemimpin tirani lainnya, tentunya merisauhkan Masyarakat DKI Jakarta.

Adalah Tirani kekuasaan tersebut dapat kita lacak dan pelajari dari beberapa contoh kekusaan seperti; Ramses atau Fir’aun, memang sosok Firaun sangat special bagi siapapun. Terlebih kalau menyangkut keangkuhannya semasa era Nabi Musa AS.

Bahkan ia dengan sombongnya mengaku dirinya adalah Tuhan yang juga merupakan keturunan langsung dari Dewa Matahari.
Apapun klaimnya tentang dirinya sendiri, jika terjadi perlawanan yang datang dari siapapun maka tak segan-segan Fir’aun membunuhnya bahkan tak mau berkompromi dan bermufakat.

Namun apalah daya kesombongan dan keangkuhan yang melekat pada dirinya hingga akhirnya malah tewas tenggelam saat mengejar Nabi Musa AS bersama bala tentaranya di laut merah.

Kisah tersebut sesuai dengan bunyi dalam ayat Al Quran, surat Yunus ayat 90 yang berbunyi: “Pada hari ini kami selamatkan badanmu, supaya kamu bisa jadi pelajaran bagi orang-orang sesudahmu di masa mendatang.”

Tak hanya Fir’aun penguasa tirani dalam catatan sejarah yang serupa dengan Ahok namun masih banyak yang lain seperti halnya, Idi Amin Dada (uganda) Bagi kaum generasi masa kini mungkin tidak mengenal nama diktator yang kesohor kekejaman terhadap rakyatnya sendiri.

Idi Amin yang memimpin melalui kudeta berdarah tahun1969 terhadap presiden Obothe, nama yang sangat menakutkan bagi rakyatnya sendiri Uganda , salah satu negara di Afrika baik dengan tangannya sendiri atau memerintahkan pembunuhan lebih dari 500 ribu rakyatnya sendiri terutama pendukung rezim yang di gulingkan.

Ahok mungkin tidak melakukan pembunuhan layaknya Fir’aun dan beberapa pemimpin tirani lain demi tercapai sebuah ambisinya.

Namun hebatnya Ahok adalah membunuh rakyat atas nama kebijakan, atas nama kesejahteraan, atas nama keadilan, hingga atas nama tuhan sekalipun.

Contoh kasus misalnya, penggusuran yang tak asing lagi di dengar melalui media televisi dan online baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional berita tersebut sangat hangat mewarnai. Penggusuran dengan cara memaksa di beberapa titik di DKI Jakarta hingga menyeret rakyat luka dan berbagai tekanan dari aparat. Angka kemiskinan di DKI Jakarta Terus-menerus meningkat ketimpangan ekonomi di DKI Jakarta adalah yang tertinggi secara nasional.

Mengutip dari Suara.com pada hari selasa, 29 maret 2016, Ketua Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno, Salamudin Daeng menilai Pemerintah DKI jakarta yang terjadi estafet kepemimpinan dari Gubernur Joko Widodo kepada Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok seolah digembar gemborkan sebagai pemerintahan yang super.

Namun, ternyata penilaian sebagian kelompok tersebut berbeda dengan penilaian Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta yang justru memaparkan kondisi sebaliknya.
Pemerintahan ini secara statistik nyaris tanpa prestasi. Hal ini ditunjukkan oleh berbagai fakta indicator dasar statistik DKI Jakarta.

Buruknya kondisi ekonomi DKI Jakarta ditandai oleh tingkat pengangguran terbesar di Indonesia adalah di DKI Jakarta dan Banten, Di Banten sebanyak 8,85 persen, sementara di DKI Jakarta sebanyak 8,36 persen, jauh diatas rata-rata Indonesia.
Selain itu jumlah kemiskinan di DKI Jakarta telah meningkat secara terus menerus dari tahun ke tahun. Jika jumlah penduduk miskin tahun 2012 sebanyak 363.200 orang, tahun 2015 menjadi 398,920 orang atau meningkat 9,83 persen.

Sementara Indeks kedalaman kemiskinan meningkat tajam antara tahun 2014 ke tahun 2015 dari 0,39 ke 0,52, yang paling parah adalah Indeks keparahan kemiskinan meningkat dari 0,7 pada tahun 2014 menjadi 0,10 pada tahun 2015.

Belum lagi persoalan ketimpangan lain yang terjadi di DKI Jakarta selama dua tahun belakangan ini.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa