Agus Yudhoyono & Impian ‘Wong Cilik’ Jakarta

img-20160926-wa0102Oleh

Mansur Husain
Inisiator Relawan ‘Bagus Jakarta’

Perhelatan PILGUB DKI Jakarta lima Bulan lagi akan dilaksanakan. Suhu politik di Jakarta semakin hari semakin panas.

Meskipun Jakarta hampir setiap hari diguyur hujan. Selama saya terjun di dunia politik baru kali ini saya melihat pesta demokrasi provinsi hampir mirip pesta pemilihan presiden. Betapa tidak semua ‘Big Bos’ partai politik  langsung turun tangan mengambil peran.

Sebut saja Megawati dan SBY.  Dua pimpinan partai yang saya sebutkan ini adalah rival berat sejak Pilpres langsung pertama kali tahun 2004 dan sekarang bertemu kembali di Pilgub DKI, seru..!

Yang Justru jarang terlihat tampil ke publik atau sekedar cawe-cawe tampil di media sebut saja Surya Paloh, Wiranto, Plus Setnov dari Golkar juga kurang terlalu atraktif tampil di media.

Mungkin karena partai nya dibarisan pertama nyatakan diri mendukung petahana sehingga sementara merasa aman aman saja.

Yang menariknya adalah partai yang dari awal menyatakan diri mendukung Petahana seperti Golkar, Hanura, Nasdem plus terakhir partai nya Tuan Putri PDIP.

Sekilas kita melihat semua berjalan adem ayem lancar tanpa hambatan. Eits sabar dulu, jika di telisik lebih dalam ternyata tidak juga,  adem ayem hanya dari luar,  tapi didalam koalisi ini bak api dalam sekam, setiap saat akan meledak. Tunggu waktu saja.

Masuk bergabung nya PDIP nyaris merubah peta politik di internal koalisi yang awal dimotori oleh PGolkar, nasdem, hanura.

‘Bisik bisik tetangga’ dari dalam ibarat bangkai tetap akan tercium juga. Koalisi yang sebelum masuknya PDIP Masih begitu kompak dan satu komando, sekarang mulai rapuh, karena di gerogoti dari dalam. Sesama pendukung saling menggergaji. Tidak tahu apa penyebabnya.

Timses petahana awalnya diberikan kepada Nushron Purnomo, sekarang mau tidak mau harus rela di kocok ulang, kader golkar yang awal masuknya PDIP dalam koalisi masih terlihat kompak, namun sekarang sudah mulai muncul riak riak penolakan dibawah.

Lebih dari 100 kader Partai Golkar DKI Jakarta membangkang dari keputusan tertinggi partainya terkait Pilkada Jakarta.

Mereka menolak mendukung petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Hal ini seperti diungkapkan politikus muda Partai Golkar, Sirajuddin Abdul Wahab, kepada wartawan di MidTown, Tulodong Atas, Jakarta, Senin (26/9) kemarin.

Bahkan, ia mengetahui bahwa sebagian besar dari mereka yang menolak juga telah menyatakan dukungan kepada bakal calon Gubernur yang diusung Partai Demokrat, PPP, PKB dan PAN, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono.

Itu baru Golkar,  bagaimana dengan kader PDIP?  yang memang dari awal menolak tegas mendukung ahok, hanya karena tidak berani melawan ibu suri, diam diam mereka lakukan pembangkangan terhadap keputusan DPP.  Ada apakah? Apa belum beres ditingkat wilayah hingga kader dibawah?

Yang menarik, selain ‘bisik bisik tetangga’, hasil obrolan diwarung kopi dan dipangkalan ojek, ini lebih seru lagi bro. Bahwa biarkan elit dukung Ahok kami dibawah tidak akan ke Ahok.

Oh ternyata dukungan ke ahok ini adalah hasil keputusan para elit saja,  dan tidak mewakili mereka orang-orang kecil dibawah.

“Mereka itu politisi hanya pandai retorika, tapi mereka tidak punya nurani. Tidak merasakan apa yang kami rasakan,  saudara saya di Priuk kan pilih Jokowi tapi kena gusur juga,  gimana nih” begitu celoteh tukang ojek pangkalan di Jagakarsa dengan semangat empat lima.

Kemarin sehabis Maghrib, saya mampir ngopi disebuah warung pinggir jalan daerah Wijaya Kebayoran Baru, belakang Polres Jaksel.

Saya mencoba bertanya kepada seorang ibu tukang jual nasi, kebetulan saya sering disitu mampir makan. Apakabar bu e, bagaimana besok Pilgub DKI mau pilih siapa?

Wah mas,  saya ini orang kecil hanya numpang jualan disini jawab si ibu.

Saya coba memancing reaksi ibu ini bagaimana pendapat ibu ini terkait Pilgub DKI.

Apa a jawaban ibu ini diluar dugaan saya. “Pemimpin sekarang mah sudah gak punya nurani mas,  oh yah mas saya doakan yah semoga Mas Agus yang terpilih jadi Gubernur”

Agus???  saya kaget dan balik bertanya Agus siapa bu? “ Itu loh Agus anaknya pak SBY itu loh,  bukan hanya gagah, tapi juga kelihatan pintar dan berwibawa, juga sopan.“

Saya bengong dengar ibu ini berceloteh, usianya kira kira 65 an…. Dengan lugas ibu ini berharap AGUS HY.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa